Menurut Laksana Tri Handoko, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), inovasi sipil yang berdampak luas biasanya berasal dari teknologi pertahanan. Teknologi seperti GPS dan internet adalah contoh teknologi yang awalnya dikembangkan untuk militer tetapi kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
Dalam sambutan pada acara penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara BRIN dan TNI AU di Markas Besar Angkatan Udara, Jakarta, Kamis (18/9).Oleh karena itu, Handoko percaya bahwa kerja sama BRIN dengan TNI AU dapat membantu memperkuat sistem pertahanan serta membuka peluang ekonomi baru yang berbasis teknologi.

Diharapkan kerja sama ini akan berdampak positif pada perekonomian nasional selain mendukung TNI AU yang fleksibel, modern, dan profesional. Handoko menyatakan bahwa BRIN akan terus berkontribusi dalam mendukung kemandirian pertahanan Indonesia. Oleh karena itu, BRIN akan mendukung TNI Angkatan Udara (TNI AU) dalam meningkatkan kemandirian teknologi pertahanan melalui riset dan inovasi. Ia menekankan bahwa BRIN mewarisi tradisi penelitian dan inovasi yang panjang di Indonesia, meskipun lembaga ini relatif muda, hampir lima tahun.
Handoko menyatakan bahwa banyak industri pertahanan strategis muncul dari penelitian para pendahulu BRIN, seperti PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT Dahana, PT Pindad, LEN, dan PT Inti. “Secara pribadi, kami memiliki kedekatan yang luar biasa dengan industri pertahanan.
” Menurutnya, banyak dari para periset senior kami yang membangun industri-industri tersebut.Handoko menyatakan bahwa kerja sama BRIN dengan TNI AU mencakup bidang-bidang strategis lainnya selain penelitian teknologi kedirgantaraan. Ia memberikan contoh pengembangan pesawat N219 dan program kerja sama pengembangan bersama mitra internasional seperti Turkish Aerospace (TUSAS). “Kami selalu menggunakan pendekatan sipil, sehingga memudahkan dalam menjalin kerja sama teknologi dengan pihak luar.
” Menurutnya, hal ini memungkinkan transfer teknologi dan pengetahuan dari mitra internasional sambil tetap relevan dengan kebutuhan pertahanan.Handoko juga menekankan betapa pentingnya peran sinergi antara sipil dan militer dalam memanfaatkan sarana riset. Ia menunjukkan bahwa kapal riset sipil lebih mudah diakses daripada kapal militer di perairan internasional, dan hal-hal yang saling melengkapi ini harus terus dipelajari.
Menurutnya, penelitian ini bersifat netral, yang membuatnya lebih mudah diterima di forum internasional dan dapat memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia.

















