Menu

Mode Gelap
Sebanyak 70 Orang di Kentucky, AS Tewas usai Diterjang Tornado Dahsyat Kemendag Cabut Larangan Penjualan Minyak Goreng Curah Berita Populer: Uji Coba Gage ke Anyer-Kunjungan Wisman 2022 Diprediksi Rendah Bosen Kerja Kantoran? Jadi Atlet MMA Aja! Di Negeri Sawit, Minyak Goreng Tak Terjangkau Belum Punya Mobil saat Merintis Karier, Andre Taulany: Ke Mana-mana Naik Angkot

Musik

FILM “MENDADAK DANGDUT” MENGHIBUR DAN MENGHIBUR TANPA AKHIR YANG MENYENANGKAN

badge-check


FILM “MENDADAK DANGDUT” MENGHIBUR DAN MENGHIBUR TANPA AKHIR YANG MENYENANGKAN Perbesar

Di bawah arahan Monty Tiwa, perfilman nasional kembali berdenyut dengan genre musik yang akrab di Indonesia namun terasa asing bagi sebagian orang.Alunan kendang, suling, dan cengkok vokal mendayu-dayu adalah ciri khasnya, bukan dominasi distorsi gitar atau hentakan drum.Inilah film “Mendadak Dangdut” (2025), yang bukan hanya memiliki judul dangdut, tetapi juga berfokus pada kehidupan Nayara Amalia Wardhani, seorang penyanyi pop yang sedang “naik daun”. 

Di tengah peliknya masalah keluarga dan kasus pembunuhan yang tak terduga, ia menemukan dirinya terjerumus ke dunia dangdut yang penuh warna.Judulnya seolah menunjukkan bahwa ini mungkin sebuah “remake” dari film terkenal tahun 2006 dengan judul serupa, “Mendadak Dangdut”, yang sukses besar pada saat itu dengan cerita seorang penyanyi rock yang mendadak menghadapi masalah dengan musik dangdut.

Sangat menarik bahwa Monty Tiwa tidak berperan sebagai sutradara dalam film tahun 2006, tetapi malah menulis naskah. Monty Tiwa, yang sebelumnya mencoba meyakinkan orang lain bahwa sebuah cerita seperti “Mendadak Dangdut” memiliki potensi, kini berperan sebagai sutradara untuk membawa cerita serupa dengan berbagai kedalaman dan kompleksitas. 

Film ini menjadi semacam refleksi perjalanan pembuat film sendiri dari keraguan hingga keyakinan, seperti perjalanan Naya yang tiba-tiba menemukan dirinya di panggung dangdut saat kehidupannya sedang bergejolak.Seperti yang dia katakan, proyek “Mendadak Dangdut” berawal dari perjuangan pribadi untuk membuktikan diri, keluar dari kenyamanan pekerjaan kantoran untuk mencoba menjadi sineas lepasan.

Film “Mendadak Dangdut” muncul sebagai titik terang di tengah ketidakpastian dan kekhawatiran akan masa depan. Proyek ini akhirnya membuktikan bahwa musik dangdut dapat menjadi tema film, meskipun beberapa rumah studio awalnya menganggapnya tidak menguntungkan.Dalam upayanya untuk meyakinkan penonton bahwa film terbaru Monty Tiwa, “Mendadak Dangdut” bukanlah “remake” karena premisnya berbeda.Aktris Anya Geraldine, yang berperan sebagai Asih di Yowis Ben 2 dan Yowis Ben 3, adalah tokoh utama dalam film kali ini. 

Thomas, sang produser musik, berada di sisinya, melihat bakat suara Naya dan memberikan kontrak untuk lima buah lagu.Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Naya bertemu dengan Joni Halmalisa, mantan anggota band pop terkenal dari tahun 70-an, di cerita “The Batavia Melody”, yang membawa dia ke babak baru dalam karirnya, tetapi itu terasa menjengkelkan baginya karena Thomas, dengan ide musiknya yang eklektik, memutuskan untuk menggabungkan dua musisi berbeda generasi ini.

Naya dan Joni akan menyanyikan lagu pop “Caramu” yang diciptakan Joni, yang ironis karena hidupnya segera berubah. Lagu ini akan diubah dengan sentuhan modern dan dinyanyikan oleh Naya. Naya merasa konsep ini seperti mimpi buruk.Ia terus menegaskan kepada Zul, manajernya, bahwa ia tidak membutuhkan kolaborasi untuk sukses. Di sini jelas terasa ego saya sebagai musisi muda yang sedang berjuang.Mungkin ada hubungan antara keduanya dan film “Mendadak Dangdut” (2006), di mana Petris, karakter utama yang diperankan oleh Titi Kamal, menolak menjadi penyanyi dangdut dengan begitu keras. 

Namun, seiring berjalannya waktu, Petris mulai belajar menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu.Ini mungkin menjadi perbedaan latar belakang film ini karena pada film tahun 2006, Petris berperan sebagai penyanyi rock. Namun, baik di film lama maupun di “Mendadak Dangdut” (2025) karakter utama harus beradaptasi dengan dinamika dan karakteristik musik dangdut. 

Tema ini mungkin sudah akrab bagi Monty Tiwa sejak dia terlibat dalam proyek ini pada tahun 2006.Sementara “Mendadak Dangdut” (2006) berfokus pada perjalanan karir dan romansa, “Mendadak Dangdut” (2025) mengeksplorasi masalah keluarga dan trauma masa lalu, dengan ayah Naya, yang diperankan oleh Joshua Pandelaki, yang meninggal, memberikan lapisan emosional yang lebih kompleks. Badai tampaknya berasal dari lingkup profesional dan pribadi. 

Selain itu, Monty Tiwa dengan sukses memberikan ANTARA sudut pandang yang lebih matang dan mendalam tentang cerita.Tidak lama kemudian, sang ayah muncul di tempat kerja putrinya. Kehadirannya membawa luka lama dari perceraian di hati anaknya, Naya. Ayah saat itu terlihat tidak berdaya, dan dia bahkan melupakan beberapa ingatannya karena sakit.Adik Naya, Lola (Lauralei Amadea Ishwari), memberi tahu adiknya, Naya (Nurra Datau), bahwa istri barunya tidak sanggup merawatnya dan ayah mereka “dibuang” ke rumah sakit. 

Tidak bergeming, Nay meminta adiknya mengantarkan ayahnya ke rumah istri barunya.Karena harus diduetkan dengan Thomas, Naya masih dalam kekalutan. Mereka berdebat, tetapi Thomas menawarkan Naya untuk minum segelas untuk meredakan emosinya.Sebuah malam yang seharusnya rutinitas kerja berubah menjadi mimpi buruk. Naya tertidur setelah menerima minuman dari Thomas. Dia terbangun dan melihat Zul tergeletak di sampingnya, bersimbah darah.Naya tidak memiliki ingatan yang cukup untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi. 

Lola dan Naya panik dan melarikan diri dengan mobil kesayangan ayah mereka.Ketika mereka melihat ke kursi belakang, mereka terkejut melihat sang ayah duduk di sana. Lola mengatakan dia tidak akan mengantar ayah mereka karena dia tak tega dengan kondisinya yang menderita Alzheimer.Ironisnya, ingatan sang ayah yang sakit menyimpan sedikit indikasi tentang tragedi yang menimpa Zul, tetapi sayangnya, ia tidak dapat mengingatnya dengan jelas.

Selanjutnya, ayah yang mendengarnya bertekad untuk membawa sang ayah kabur bersama mereka agar dia dapat membuktikan bahwa putrinya tidak bersalah ketika dia ingat.Elemen menegangkan ini juga menjadi salah satu perbedaan antara film lawas tahun 2006, “Mendadak Dangdut” (2025), yang lebih bergenre komedi-romantis.Komedi tetap ada, tetapi film “Mendadak Dangdut” malah menjadi lebih komedi dengan kehadiran komedian seperti Opie Kumis yang membuat penonton tertawa dengan celetukan Betawinya, Keanu Angelo yang marah-marah, dan Adi Sudirja dengan celetukan kebatak-batakannya.

Singkatnya, ketika Naya melarikan diri, ia membawa Lola, sang ayah, dan dia ke Dusun Singalaya, sebuah wilayah pantai di luar Jakarta yang hiruk pikuk. Panggung dadakan orkes Ria Buana di dekat rumah baru ayah mereka seringkali menampilkan musik dangdut. Biduannya, Tata, memiliki pesona vokal yang kuat, tetapi dia sering berselisih dengan kibordisnya, Wawan (diperankan Keanu Angelo), yang pikir Tata terlalu mendominasi panggung orkes daripada pemain musiknya.Konflikt meningkat ketika sang pemimpin orkes, Haji Romli, yang diperankan oleh Haji Kumis, mengusir Wawan. 

Selanjutnya, Wawa menumpang tinggal di kontrakan Wendhoy, yang merupakan pemain kendang di Ria Buana.Dalam film tahun 2006, dinamika dan konflik internal orkes lebih dibahas, meskipun kehadiran orkes dangdut sebagai latar belakang dan kemungkinan kolaborasi mengingatkan kita pada elemen penting musik dangdut. Mungkin Monty Tiwa, yang dulu berjuang untuk karyanya yang diakui, kini lebih tertarik untuk mempelajari dinamika kelompok dan perjuangan individu dalam mencapai impian di tengah kerasnya kehidupan.

Sementara Naya dan Lola mencari tempat baru untuk tinggal. Mereka tiba di kontrakan Ki Yatno (Adi Sudirja), seorang pemilik kontrakan yang serbaguna yang menyewakan kamar dan pasang susuk hingga membuka bironya sendiri. Pada awalnya, siapa pun tidak mengetahui bahwa Naya diduga terlibat dalam kasus pembunuhan manajernya.Sampai televisi kontrakan Wendhoy menyiarkan berita pencarian buronan dengan wajah Naya, lengkap dengan imbalan 10 juta rupiah, yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi.Wawan menyadari kehadiran Naya di sekitar kontrakan Dhoy dan melihat peluang bagus. 

Dia takut memaksa Naya untuk menjadi biduan di orkes dangdut impiannya jika dia tidak ingin dilaporkan ke polisi.Mungkin ada kemiripan dengan karakter pendukung di film 2006, di mana karakter utama dipaksa untuk mengikutinya (kala itu, Petris dipaksa mengikuti karakter bernama Rizal, yang diperankan oleh Dwi Sasono). Namun, motivasi Wawan kali ini lebih sederhana, menunjukkan bagaimana kesempatan bisa muncul di tengah situasi yang sulit.Wawan berusaha mendaftarkan orkes barunya ke Larung Pes, festival dangdut terkenal, sementara Naya sibuk mencari pengacara untuk membersihkan namanya melalui biro jasa Ki Yatno.Naya mendapatkan ide brilian (atau mungkin putus asa): bergabung dengan orkes Wawan. 

Ia percaya musik, terutama irama dangdut yang riang, dapat membantu menghidupkan kembali ingatan ayahnya.Musik sebagai alat penyembuhan dan pemulihan ingatan menjadi elemen naratif yang unik yang belum pernah dibahas sebelumnya dalam film tahun 2006, yang disutradarai oleh Monty Tiwa.Dengan demikian, babak baru dalam hidup Naya dimulai. Sekarang, sebagai penyanyi pop, ia harus beradaptasi dengan gemerlap dan dinamika panggung dangdut. 

Ternyata penampilan perdana mereka memukau penonton. Rizal Maduma, yang berperan sebagai Dwi Sasono, adalah seorang mantan penyanyi yang sukses yang kini bekerja sebagai produser musik dangdut. Dia tertarik dengan penampilan Naya dan orkesnya di antara orang-orang yang hadir.Rizal menawarkan untuk membawa orkes Wawan dan Naya ke festival Larung Pes. Orkes mereka diberi nama unik, Yaya Aduduh. Nama ini berasal dari insiden lucu ketika Lola hampir keceplosan menyebutkan nama kakak yang dicari polisi.Akhir yang tidak didugaTibalah hari festival yang dinanti-nantikan, tetapi tidak ada kejutan yang ditunjukkan dalam film. 

Sebuah cerita mengatakan bahwa Naya mempersiapkan diri untuk tampil di panggung Larung Pes. Jejak obat di air mineral yang diminum Naya sebelum pembunuhan menjadi bukti kepolisian.Polisi juga dapat dengan cepat menemukan pelaku sebenarnya dengan sedikit bukti yang diberikan oleh Kompol Rissa—yang sebenarnya berstatus AKP, dengan tiga batang emas di bahu seragamnya—. Aktris Putri Patricia berperan sebagai Kompol Rissa.Meskipun sudah diminta pulang oleh Rissa untuk menjalani beberapa pemeriksaan di kantor polisi, Naya akhirnya memilih untuk menunda kembali. 

Alasannya, tentu saja, untuk bisa tampil di panggung Larung Pes. Meskipun panggung dangdut tersebut diadakan di Desa Sindanglaya, tata pencahayaan dan audionya tetap mewah seperti konser di ibu kota. Dentuman kendang yang lantang meningkatkan adrenalin penonton, mendorong mereka untuk bergoyang bersama musik. Lampu dan asap sangat berbahaya.Naya akan membawakan lagu “Caramu” di sini. Seolah-olah jalan karir Naya yang tak terduga digambarkan oleh perubahan dari lagu pop menjadi dangdut yang menggembirakan. 

Lagu-lagu dangdut lainnya ditampilkan di panggung. Salah satunya adalah lagu “Jablai”, yang pertama kali dimainkan oleh Titi Kamal dalam film “Mendadak Dangdut” (2006).Meskipun akhir film 1925 “Mendadak Dangdut” hampir tidak mengejutkan, penggemar film lama akan sulit melewatkan kejutan alur ceritanya. Sutardara menawarkan berbagai cerita yang mengharu dinamika hubungan ayah-anak, namun dipoles dengan komedi renyah yang khas dari setiap pemain. Mulai 30 April 2025, film “Mendadak Dangdut” akan tersedia di bioskop se-Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

SERAHKAN SERTIFIKAT PASAR LASOANI KE ATR/BPN

26 September 2025 - 10:49 WIB

GUBERNUR SULTENG MENERIMA GOOGLE MELALUI KERJA SAMA DIGITALISASI SEKOLAH

26 September 2025 - 10:09 WIB

DPRD SULTENG MENGAKUI PEMBENTUKAN DOB KABUPATEN TOMPOTIKA

25 September 2025 - 10:43 WIB

DATA IMIGRAN SULTENG TERKAIT TKA DARI PERUSAHAAN NIKEL DI MOROWALI DIAWASI MENURUT ATURAN

25 September 2025 - 10:37 WIB

KEMENDISDAKMEN-PEMPROV SULTENG MENINGKATKAN PENGAWASAN BAHASA INDONESIA.

25 September 2025 - 10:27 WIB

Trending di Berita